• +62 817 18 3232 mayko.sugianto@gmail.com maykohanz

Your search results

Tips dan cara jitu untuk mengatasi pengembang perumahan yang ingkar janji

Posted by Mayko-Sugianto on December 19, 2016
| Blog
| 0

Memiliki rumah baru yang berlokasi di area  town house merupakan impian setiap orang, akan menjadi hal terindah yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata kalau impian ini bisa diwududkan. Tetapi rasa senang ini bisa saja berubah jika pengembang mengingkari janji manisnya.Dengan mengingkari janjinya anda akan begitu sangat menyesal dan  kecewa sekali 

Misalnya, pengembang mengungkapkan bahwa nantinya perumahan A akan dilengkapi kolam renang, taman bermain, dan mini garden. Kenyataannya saat ditunggu hingga satu tahun lamanya tak pernah ada proses yang menunjukan akan di lengkapi fasilitasnya  pembangunan tersebut tidak pernah ada. Atau contoh kasus lainnya, spesifikasi rumah tidak sesuai dengan konsep yang tertera di brosur. Jika hal ini menimpa Anda, langkah apa yang bisa dilakukan? nahh berikut ini ada beberapa tips dan cara mengatasi pengembang yang lari atau ingkar janji pada yang di janjikan 

tips dan cara jitu untuk mengatasi pengembang perumahan yang ingkar janji

tips dan cara jitu untuk mengatasi pengembang perumahan yang ingkar janji

Jika Tak Menyediakan Fasilitas Perumahan

penghuni bisa melakukan gugatan class action jika pengembang tidak membangun fasilitas perumahan yang dijanjikan pada saat transaksi. Berdasarkan UU No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, gugatan terhadap pengembang juga bisa dilakukan secara individu.

Pada prinsipnya, penghuni sebuah kompleks perumahan –baik klaster atau town house– adalah konsumen  dari suatu produk barang atau jasa. Maka dari itu, ia dilindungi UU Perlindungan Konsumen. Dari mulai fasilitas yang tidak sesuai dengan brosur penawaran, sampai soal cicilan lunas tapi sertifikat rumah tidak keluar. Selain itu, masih banyak juga pengembang yang tak menyediakan fasilitas umum (Fasum) dan fasilitas sosial (Fasos) sesuai aturan.

Ancaman bagi pengembang yang tidak melakukan kewajiban membangun fasum dan fasos adalah denda hingga Rp2 miliar atau penjara selama 5 tahun. Perbandingan antara luas fasilitas dengan perumahan adalah sekitar 40 banding 60.

Meski begitu, perbandingan atau persentase tersebut tergantung besar kecilnya area perumahan yang dibangun. Untuk perumahan kecil yang luas arealnya kurang dari 5000m2, lahan fasum-fasos bisa 20 atau 30 %. Kebanyakan digunakan untuk jalan, drainase, gorong-gorong, dan lahan terbuka.

Oleh karena itu, telitilah dalam memilih hunian yang ideal untuk Anda dan keluarga tinggali. Perumahan dengan fasilitas yang lengkap, tentu akan berdampak baik pada  jasmani dan rohani penghuninya.

Jika Spesifikasi Rumah Tak Sesuai Konsep

Masalah kedua yang mungkin dialami sebagian orang adalah kondisi rumah tidak sesuai dengan perjanjian awal. Seringkali isi pasal-pasal dalam PPJB (Pengikatan Perjanjian Jual Beli) lebih menguntungkan pihak developer daripada pihak konsumen.

Sebagai contoh, apabila terjadi keterlambatan pembayaran (misalnya, cicilan DP rumah yang belum lunas), konsumen akan dikenakan denda; tetapi sebaliknya bila developer tidak menepati janjinya (misalnya, serah terima kunci yang tidak sesuai jadwal) maka konsumen hanya akan mendapatkan seribu satu alasan.

Kembali pada PPJB, dalam surat tersebut biasanya hanya dilampirkan:

1) Denah rumah

2) Tampak muka

3) Spesifikasi umum

Poin 1 dan 2 relatif mudah dicek, karena merupakan bagian yang kasat mata.sebaliknya poin 3 mengenai spesifikasi teknis yang merupakan penentu kualitas rumah dan umur pakainya justru sulit di periksa 

Konsumen perlu berhati-hati, karena biasanya developer hanya menerangkan spesifikasi yang sangat umum, misalnya pondasi batu kali dan struktur beton bertulang, tapi tidak menyebutkan berapa sentimeter kedalaman dan lebar pasangan batu kali.

Mereka juga tidak menyebutkan berapa ukuran diameter besi tulangan beton yang akan dipakai sebagai struktur konstruksi rumah yang dibeli. Padahal, hal ini lebih penting daripada sekadar tampak muka rumah (fasad). karena percuma saja sebuah rumah terlihat indah saat di beli namun dalam waktu 1-2 tahun dindingnya retak karena pergeseran tanah  

Bagi Anda yang mengalami kasus serupa, terlebih dahulu Anda bisa memberikan somasi kepada pengembang. Menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), untuk kasus pelanggaran perjanjian, pengembang bisa dikenakan denda atau wanprestasi. Namun ketika tidak menemui titik temu, masyarakat bisa melaporkannya ke asosiasi hingga Kementerian Perumahan Rakyat sebagai regulator.

Baca juga artikel lainnya yuk

Hal yang harus di perhatikanjika mau berbisnis kontrakan 

shop giay nuthoi trang f5Responsive WordPress Themenha cap 4 nong thongiay cao gotgiay nu 2015mau biet thu deptoc dephouse beautifulgiay the thao nugiay luoi nu